Disclaimer : Tulisan ini mengandung link affiliate. Kalau kamu klik dan beli produk lewat link tersebut, gue mungkin akan dapat komisi kecil dari penjual. Tapi tenang aja—harga produk buat pembeli nggak akan berubah sama sekali.
Memilih biji yang dibeli di Shopee, menyiapkannya supaya menjadi benih lalu tumbuh menjadi bibit sampai menjadi tanaman ternyata nggak mudah. Ini adalah cerita perjalanan kedua gue mencoba menanam dengan metode hidroponik.
Selama 6 bulan, gue mencoba menantang diri dengan berkebun. Ini adalah percobaan kedua. Kegagalan pertama pernah gue dokumentasikan di sini. Cerita kali ini mungkin lebih lengkap, mulai dari milih biji, proses menyemai, menanam, hingga panen, bahkan juga saat terserang hama. Kali ini, pengalaman yang gue rasakan lebih ‘kaya’ karena mungkin gue lebih telaten dan belajar dulu sebelum mulai menanam.
Kenapa Hidroponik?
Berkebun bukanlah hobi yang rutin gue jalani tiap hari, bulan, atau tahun. Gue berkebun kalau gue pengin. Gue nggak cukup sabar untuk merawat dan menunggu benih tumbuh menjadi tanaman dewasa. Gue sudah punya kegiatan yang gue pupuk bertahun-tahun dan hasilnya masih belum maksimal, jadi rasanya nggak butuh kegiatan lain yang hasilnya nggak bisa langsung gue petik. Namun, di tahun 2025 ini gue ingin belajar lebih sabar, jadi gue memilih berkebun. Gue perlu belajar dan melihat dunia dari sisi lain.
Selain belajar sabar, berkebun kayaknya ideal banget buat slow down karena bisa jadi kegiatan melepas penat dan juga olahraga. Alasan gue memilih hidroponik ya karena nggak punya tanah dan lahan. Rumah yang gue tempati nggak punya pekarangan luas dan sudah banyak tanaman hias. Jadi, cuma ada balkon kecil di atas yang bisa gue jadikan lahan. Setelah dipikir-pikir, coba ajalah menanam di atas, toh kena matahari dan nggak perlu tanah.
Ketika memulai lagi, gue sebenarnya juga menyiapkan tanah, tapi karena gue punya dua kucing, alhasil, tanah itu malah dikira toiletnya. Sulit. Akhirnya, gue memutuskan full hidroponik aja. Lagipula, gue masih penasaran karena sebelumnya gagal. Jadi, di 2025 ini akhirnya gue mulai mengeluarkan perabotan hidroponik sederhana yang gue punya dulu.
Persiapan Awal Sebagai Pemula Jilid 2
1. Riset sistem NFT, wick system, dan DFT
Pertama kali mencoba hidroponik di tahun 2018, gue masih pake wick system. Sebagai pemula, ini tuh paling gampang dicoba. Modalnya cuma media tanam, netpot, flannel, sama bak air. Di Januari 2025, gue pun melakukan perhitungan lagi mana yang sekiranya cocok dengan budget. Gue tertarik menggunakan DFT (Deep Flow Technique) yang katanya tetep ada genangan air saat listrik mati. Namun, karena berbagai pertimbangan, gue tetap pilih wick system aja karena takut bosan di tengah jalan dan harganya juga nggak semahal peralatan DFT.
2. Memilih media tanam
Untuk media tanam, gue masih pakai rockwool dan mencoba pakai cocopeat. Untuk rockwool, gue masih punya stock. Kenapa cocopeat? Gue juga lupa alasannya apa pada waktu itu pilih cocopeat. Hahahaha Mungkin karena penasaran aja pengin bandingin keduanya.
Rockwool itu bentuknya kayak spons, sedangkan cocopeat kayak serbuk dan sabut kelapa. Kalau mau air tetap bersih, kayaknya pilih rockwool aja soalnya cocopeat berhamburan dan bisa ngotorin bak nutrisi sih.
3. Belanja online, nutrisi AB mix
Semua peralatan hidroponik yang gue pakai dibeli di e-commerce. Berikut alat dan bahan yang gue persiapkan sekalian link belinya untuk jadi inspirasi :
Harganya bisa lebih murah kalau beli banyak, tapi kalau nggak mau repot, ada juga yang jual paketan hidroponik lengkap. Kemarin, gue juga beli kangkung kit di sini. Beli satu aja bisa dapet puluhan biji kangkung dan panen sampe 3 kali.
Tantangan Awal Saat Mulai Hidroponik
Saat berniat untuk menanam, bersiaplah menghadapi tantangan dan rintangan yang akan datang. Segala halang rintang dan kegagalan itu akan menguji kegigihan kita untuk terus menanam atau menyerah. Just like a life…
1. Biji yang nggak mau pecah
Ada banyak faktor kenapa benih paling baik yang kita pilih nggak mau tumbuh. Beberapa hal yang gue alami di antaranya:
- Bijinya memang jelek karena mungkin pas milih lagi ngantuk
- Media terlalu basah sehingga membusuk
Pengalaman dan tips menyemai benih yang gue alami
- Jangan pakai tissue karena rawan kekeringan
- Beberapa biji butuh perlakuan khusus sebelum disemai. Sebaiknya, cari info yang bisa dijadikan referensi. Misalnya, untuk biji melon, perlu direndam air hangat 1 jam sebelum disemai
- Basahi rockwool secukupnya aja, yang penting lembab. Pokoknya jangan sampai tenggelam karena rawan busuk.
Saat menyemai di tempat gelap, selalu perhatikan keadaan media tanam. Terlalu basah atau terlalu kering bisa menyebabkan biji gagal pecah—selain bijinya emang jelek. Hasilnya, gue berhasil menanam tomat, kangkung, bayam, pokcoy, melon, brokoli. Setidaknya, sampai menjadi tanaman dewasa.
2. Salah ngukur nutrisi, daun jadi gosong
Setelah selesai fase menyemai, saatnya pindah tanam agar bibit bisa tumbuh dan berkembang. Saat pindah tanam inilah kita mulai tambah nutrisi AB mix. Gue nggak punya TDS, jadi ya sesuai petunjuk larutan aja.
1 L Air = 5ml larutan A + 5ml larutan B
Ada kalanya takaran kelebihan dikit atau pas bikin larutan AB, bahan padatnya nggak larut. Kesalahan kecil ini yang kayaknya bikin daun kering, kuning, gosong dan akhirnya dead. Salah perawatan memang bahaya karena kehidupan tanaman bergantung sama nutrisi yang dikasih.
3. Algae muncul karena wadah kena matahari langsung
Untuk beberapa tanaman, gue pakai bak bekas eskrim warna putih. Karena taruh di balkon yang kena matahari langsung, jadi banyak lumut hijau di dindingnya. Kadang kalau gabut dibersihin, tapi entah kenapa malah tanamannya jadi lemes, jadi akhirnya gue diemin aja. Nanti mungkin akan cari solusi supaya cahaya nggak tembus.
4. Hama
Untuk pertama kalinya, gue menghadapi hama. Hama ini membuat bayam-bayam mati, pokcoy bantet, kembang kol mati, pokoknya semua mati—termasuk kegigihan gue. Di awal kemunculannya, gue mulai bikin resep pestisida alami pakai kulit bawang dan cabai, tapi no result. Kalau disemprot hilang, besoknya ada lagi. Gue menyerah. Hamanya serangga sih, mungkin juga karena mulai musim panas.
Momen Pertama Kali Lihat Bibit Tumbuh
Saat biji mulai pecah, ada rasa senang yang muncul. Saat udah mulai berkecambah, makin dinanti dan makin happy. Saat mulai kelihatan daun ketiga dan keempat, terhura. Saat mulai tumbuh daun-daun kecil lain, “Wah aku berhasil menumbuhkan kehidupan baru.”
Satu tantangan berhasil dilalui. Setiap pagi, gue ngecekin bibit supaya nggak mati dan siap dipindahkan ke pot yang lebih besar.
Tips supaya benih tumbuh dengan baik yaitu kalau benih sudah pecah dan jadi kecambah, langsung aja pindahin ke tempat yang kena matahari supaya nggak kutilang. Biarkan benih-benih itu merasakan kehangatan sinar matahari. Terlalu lama di tempat gelap bikin benih kekurangan cahaya matahari. Masih ingat pelajaran biologi tentang etiolasi?
Semai tempat gelap sampai berkecambah 1 hari, lalu pindahin ke tempat yang ada sinar matahari.
Cek Progress Tanaman
Gue awalnya bikin jurnal tanaman, tapi cuma bertahan sampai selesai semai soalnya besoknya males. Hahaha yang gue catat itu progres pertumbuhannya, supaya nantinya ada gambaran apa yang harus gue lakukan kalau tiba-tiba pengin mulai dari 0 lagi.
Tantangan paling pertama yang susah menurut gue itu ya bikin benih tumbuh baik dan nggak kutilang, jadi mesti dicatat perlakuannya kayak gimana supaya bisa belajar dari semua kegagalan ataupun keberhasilannya.
Jenis Sayuran yang Ditanam
Awal memulai, gue coba beli beberapa jenis sayuran daun dan buah di antaranya:
Kangkung
Kangkung itu lumayan cepat tumbuh dan cocok buat pemula. Kalau sudah punya biji kangkung, direndam air dulu 2 jam. Setelah itu, bungkus di kain flanel lembab selama 24 jam dan tinggal tunggu sampai pecah benih.
Waktu dari penyemaian sampai panen hanya butuh sekitar 4 minggu. Karena nggak butuh waktu lama, jadi cocok banget buat awal biar semangat. Hasilnya instan walaupun tetap perlu usaha buat tambah-tambah nutrisi setiap beberapa hari sekali.
Bayam
Bayam juga tanaman yang cukup mudah ditanam oleh pemula. Kalau beli di e-commerce, 1gr aja dapat banyak banget. Untuk menyemai bayam, nggak perlu direndam dulu. Bijinya bisa langsung disebar aja di media tanam yang sudah dibasahi, kemudian taruh di tempat gelap dan tunggu sampai berkecambah. Setelah berkecambah, langsung pindahin ke tempat yang ada cahaya matahari.
Pertumbuhan bayam termasuk cepat, jadi mesti sering dicek kondisi semai gelapnya jangan sampai kutilang. Kalau kutilang, bayamnya tetap tumbuh, tapi hasilnya agak kureng.
Bayam juga butuh banyak nutrisi, jadi bak nutrisi mesti sering dicek biar nggak kering karena kering sedikit, tanaman bisa garing apalagi kena matahari langsung.
Sawi Hijau
Sawi agak tricky karena butuh nutrisi lebih banyak. Tapi hasil panennya melimpah. Satu netpot bisa menghasilkan satu bonggol besar yang cukup buat satu panci sayur bening.
Selada
Entah apakah gue salah memilih jenis selada atau gimana, tapi menanam selada masih sulit buat gue. Seladanya tumbuh tapi kok nggak seperti punya orang. Wkwk Baru pernah panen satu tanaman, tapi cuma gitu aja. Kayaknya agak tricky soal nutrisi dan cahaya mataharinya.
Tomat Cherry
Gue baru pertama kali nanem tomat. Gue suka banget lihat mereka tumbuh, berbunga, dan berbuah. Banyak banget. Untuk perawatannya relatif mudah, tapi karena ini tanaman buah, mesti pake ajir supaya nggak patah batangnya. Senang banget lihat tanaman berbuah merah.
Rasa tomatnya kayak asem-asem gitu, tapi kayaknya gue cuma suka nanemnya aja, nggak suka makannya.
Bunga Kol
Nggak pernah kepikiran kalau gue bisa nanem bunga kol sampai berbunga. Sayangnya, nggak sempat panen karena tanamannya mulai kering dan mati. Kombinasi masalah hama dan nutrisi. Tapi setidaknya, pernah dicoba. Untuk jadi bunga kol, waktunya cukup lama dan butuh kesabaran. Pas pertama kali lihat bonggol bunga, terharu banget karena kesabaran gue berasa ada hasilnya. Gue berharap bisa sampai panen, tapi ternyata belum waktunya.
Gue masih perlu mencari akar masalah kenapa tumbuhnya nggak mekar banget.
Brokoli
Ini adalah tanaman yang juga butuh waktu lama buat panen. Gue agak bingung masa panennya kapan, tanaman gue udah berbunga tapi tiba-tiba jadi coklat. Bonggolnya nggak gede kayak yang ada di pasar atau supermarket, jadi ya gue tungguin aja. Eh, ternyata kembangnya malah jadi cokelat. Gue pikir mungkin karena kepanasan, tapi nggak tahu deh.
Sawi Putih
Damn. Sawi putih ni lumayan susah. Tanaman gue tumbuh subur, nutrisi cukup, tapi tiba-tiba tanamannya lemes dan mati. Gue pikir karena kebanyakan cahaya matahari dan biasanya akan balik lagi setelah sore. Eh, ternyata malah mati dan menyerah. Sad. Aku tidak akan menyerah. Nanti akan gue cari akar masalahnya dulu.
Kol/Kubis
Sedang dalam masa menanam. Masih progress. Sejauh ini terlihat meyakinkan, tapi kita tunggu sampai benar-benar terlihat bonggolnya ya.
Seledri
Seledri cukup gampang. Untuk ini, gue tanam pake cocopeat aja. Sejauh ini, masih tumbuh dan gue pakai buat masak.
Daun Bawang
Sebenarnya, ini pakai daun bawang langsung kayaknya bisa ya, tapi karena gue suka tantangan, gue nanemnya dari biji hahah Lagi-lagi, ini pakai cocopeat soalnya kalau hidroponik gagal wkwk Lihatlah tanaman daun bawang ini, sudah gue pakai untuk masak telor.
Panen Pertama
Tanaman yang pertama gue panen adalah kangkung. Setelah itu menyusul bayam, sawi hijau dan tomat. Panennya di bulan puasa jadi buka puasanya pake sayur dari kebun. Rasanya renyah, lebih bersih dan tentunya tanpa pestisida. Panen sendiri dan bersihin sendiri.
Gue terharu karena akhirnya ada yang bisa dibanggain dari menanam ini. Kesabaran dan keuletan gue ada hasilnya. Walaupun kadang males nambahin nutrisi, tapi tetap gue jalani. Sayurnya segar, kalau mau masak, tinggal ambil. Efek dari rajin mengecek tanaman yaitu gue jadi kena sinar matahari. Ternyata berguna juga untuk mengurangi stress.
Pelajaran Penting dari Hidroponik Jilid 2
1. Trial & error itu bagian dari perjalanan
Hidroponik itu nggak bisa dibilang gampang, tapi juga nggak susah. Tiap tanaman itu unik dan butuh perlakuan yang sedikit berbeda. Kadang, pakai satu cara yang sama, tapi hasilnya bisa berbeda. Kadang berhasil, kadang gagal. Namun, dari beberapa kali gagal menyemai, gue mulai belajar untuk nyari jalan lain supaya bisa berhasil.
2. Konsistensi itu penting
Kunci dari tanaman tumbuh subur adalah rajin dan disiplin ngecek larutan dan bersihin bak dari lumut. Sekali lupa isi bak larutan, tanaman bisa kering dan ketika diselamatkan, kadang sudah terlambat. Jadi, minimal cek sehari sekali daripada menyesal nanti tanamannya mati.
3. Catatan harian bikin proses lebih terkontrol
Harusnya, gue bisa lebih konsisten dengan jurnal tanaman supaya semua kesalahan, kegagalan dan keberhasilan bisa terdokumentasi dengan baik. Kalau ada catatan lengkap, gue tinggal lihat catatan.
Tips Hidroponik di Rumah
Tips buat kamu yang mau coba hidroponik sederhana di rumah:
- Kalau pemula, coba 10–20 lubang dulu. Fokus belajar gimana nyemai, gimana tambah nutrisi dll.
- Pilih sayur yang cepat panen (30 hari) biar semangat terjaga. Contohnya ada kangkung, bayam atau pakcoy. Di beberapa toko online ada yang nawarin paketan sayuran 30 hari. Ini bisa jadi alternatif kalau bingung mau yang mana.
- Jangan takut gagal karena ya namanya juga belajar. Gagal semai atau gagal panen itu biasa. Jangan takut pokoknya. Jalani aja.
Apakah Hidroponik Bisa Menjadi Gaya Hidup?
Kayaknya, hidroponik bisa naik level dari hobi ke gaya hidup deh. Kalau konsisten menanam, nantinya jadi nggak perlu sering beli sayur lagi. Semua tinggal ambil di kebun kecil. Sayurnya juga lebih segar dan bebas pestisida.
Merawat tanaman juga akhirnya bisa bikin gue lebih sabar dan refleksi siklus kehidupan. Saat berhasil menaklukan satu tantangan, ternyata ada lagi di depan. Sudah berhasil menyemai, ternyata tantangan berikutnya merawat jadi tanaman yang sehat. Saat sudah jadi tanaman sehat dan berbunga, selanjutnya merawat supaya buahnya tumbuh. Saat buahnya tumbuh, harus mikir lagi gimana biar bisa panen. One step at a time.
Semua hal yang gue pelajari dari merawat tanaman ini gue pikirin lagi kaitannya dengan kehidupan. Dari biji sampai jadi daun dan panen, semua proses butuh niat, kesabaran, konsistensi, dan keberanian untuk mencoba. Ada yang gagal, ada juga yang berhasil. Kalau gagal, bisa coba lagi. Satu kegagalan bukanlah akhir dari segalanya. Bangkit lagi, milih biji lagi lalu semai lagi. Suatu hari nanti, apa yang ditanam akan ada hasilnya juga.
Untuk kamu yang mau coba mulai menanam, mulai aja, nggak usah takut. Namanya juga hidup. Life is just life…

Leave a Reply